Tuesday, 5 February 2013

tokoh-tokoh agama



1. Theodora dan Didimus Kekasihnya
           Theodora adalah seorang gadis cantik, anggota jemaat yang saleh di Antiokhia. Ia ditangkap dan diadili oleh gubernur Antiokhia. Theodora diperintahkan oleh gubernur agar mempersembahkan  kurban kepada dewa-dewa Roma dan  Kaisar, tetapi ia menolak dengan tegas. Karena penolakannya itu, ia mendapat hukuman cambuk, lalu dipenjarakan di ruang bawah tanah.
           Theodora mempunyai seorang tunangan yang bernama Didimus, juga  orang Kristen. karena cintanya yang besar kepada Theodora, Didimus menyamar sebagai seorang tentara Romawi untuk menemui kekasihnya dipenjara. Ia berhasil menemui Theodora. Didimus membujuk  Theodora supaya menyangkal namun Theodora menolaknya.  Didimus terus menerus membujuknya, namun Theodora tetap pada pendiriannya untuk tetap percaya kepada Kristus. Tidak lama berselang, penjaga penjarapun menemukan Didimus dan Theodora lalu ditangkap dan diperiksa. Didimus  menyatakan bahwa dirinya adalah Kristen dan Theodora adalah tunangannya. Gubernur meminta kepada Didimus untuk meninggalkan imannya kepada Kristus dan mempersembahkan kurban kepada dewa.  Namun dengan tegas Didimus menolak permintaan sang gubernur, akibatnya Didimus pun diancam hukum mati. Mendengar putusan yang ditujukan kepada tunangannya, Theodora menghadap gubernur untuk memohon supaya Didimus dibebaskan dengan alasan "bahwasannya Theodoralah yang menyebabkan Didimus menyamar sebagai tentara, itu sebabnya sepantasnyalah saya yang harus dihukum mati kata Theodora.  tetapi apa mau hendak dikata Theodora pun ikut dihukum mati dengan cara dipenggal kepalanya dan mayatnya dibakar.
                                                    
 2. Marinus
              Di Kaisarea ada seorang kaisar Romawi yang bernama marianus. Dia adalah seorang tentara yang cakap, itu sebabnya dengan mudah Marianus mendapatkan posisi yang sangat strategis dalam karirnya sebagai seorang tentara Romawi.  Suatu ketika jabatan komandan pun kosong, maka terjadi persaingan dalam memperebutkan jabatan komandan tersebut.  Sebenarnya berdasarkan kebiasaan yang berlaku,  selayaknyalah Marinus mendapatkan jabatan komandan tersebut.  Tetapi oleh karena Marinus seorang Kristen, hal ini menjadi persoalan, ksrena berdasarkan  hukum Romawi kuno seorang Kristen dilarang menduduki jabatan strategis. Status Marinus sebagai seorang kristen pun disampaikan oleh seseorang ke pada Kaisar. Arkheus seorang hakim di Kaisarea memanggil Marinus untuk mengecek benar tidaknya informasi tersebut.  Di hadapan hakim, dengan  berterus terang Marinus mengaku bahwa ia benar seorang Kristen. dengan berbagai upaya, sang hakim membujuk supaya Marinus menyangkal imannya dan mempersembahkan kurban kepada  dewa dan menyembah kaisar guna memperoleh jabatan tersebut. Marinus tetap teguh kepada penderiannya sekalipun Arkheus terus membujuk dia.
            Sebenarnya Marinus diperhadapkan kepada dilema, yang mana disatu sisi ia ingin memperoleh jabatan komandan tersebut, namun pada sisi lain ia harus menyangkal Kristus yang telah menganugerahkan hidup kekal  kepadanya. Akhirnya, Marinus memilih untuk tetap mempertahankan imannya. Akibat dari keteguhan imannya, Marinus dihukum mati dengan cara dipancung
3. Sebastianus

        Dioklesianus menjadi kaisar di Roma sekitar tahun 284. Situasi Gereja pada saat itu sudah semenjak kaisar Gallienus mengeluarkan keputusan (edik) toleransi pada tahun 261. tahun 303 Diokesianus, tiba-tiba mengeluarkan keputusan untuk menghambat Gereja. Dalam situasi seperti inilah Sebastianus menjadi Kristen. Sebastianus tinggal di Narbonne, Gaul, hidup dileingkungan istana, dan sebagai seorang komandan. Sekalipun ia tinggal dalam lingkungan istana, yang notabenenya dikelilingi dengan orang yang menyembah berhala, namun ia tidak terpengaruh dengan situasi tersebut.
Fabianus, seorang jenderal di Roma, sangat membenci Sebastianus. Namun  sang jenderal tidak punya jalan untuk menjebak Sebastianus agar dihukum mati. Sebab berdasarkan hukum Romawi, seorang pejabat tidak dapat dihukum mati. Oleh sebab itu Jenderal Fabianus melapor kepada kaisar Dioklesianus bahwa Sebastianus muduh para dewa dan kaisar. di hadapan kaisar, Sebastianus mengatakan bahwa agama Kristen adalah agama yang baik dan tidak ada unsur-unsur kejahatan. Agama Kristen bukan agama yang bermaksud mengganggu ketertiban dilingkungan kekaisaran roma, tetapi sebaliknya dalam ibadah orang Kristen, kaisar dan keselamtan kaisar didoakan. Kendati pun demikian, jawaban Sebastianus tidak meredam murka kaisar. Akhirnya Sebastianus dijatuhi hukuman mati denga dipanah oleh tentara-tentara Roma.

4. Fransiskus dari Asisi
            Fransiskus lahir  Lahir pada tahun 1182 di kota Asisi UItalia, nama kecilnya Geovanni. Sejak kecil Fransiskus sudah dicap sebagai orang yang berontak terhadap orang tua. Ayah Fransiskus sesungguhnya mempunyai harapan yang sangat besar terhadapnya untuk meraih preastasi dikemudian hari. namun justru sebaliknya, ia mabuk-mabukan dan melakukan  berbagai kejahatan. pada usia 20 tahun ia bergabung menjadi  anggota meliter dan Italia berperang denga perugia. Malangnya, Fransiskus tertangkap dan dijadikan sebagai tawanan. Di dalam penjara Fransiskus mengalami penderitaan yang amat sangat yang menyebabkan ia jatuh sakit. Situasi ini membawa Fransiskus ke dalam pertobatan.  Setelah keluar dari penjara ia memutuskan untuk masuk menjadi Kristen yang sesungguhnya.
           Dalam perjalanan berjiarah ke Roam Fransiskus bertemu dengan orang para pengemis dan orang yang berpenyakit kusta. Ia terharu dan iba sehingga ia memberikan  jubahnya kepada pengemis dan memeluk penyandang kusta itu. Apa yang dilakukan oleh Fransiskus tidak lazim bagi kebanyakan orang sebab ia akan ketularan oleh penyakit kusta tersebut.
 Melihat orang-orang di sekelilingnya seperti ini, lalu ia mengabdikan dirinya bagi orang-orang fakir miskin dan yang menderita karena penyakit.
                Suatu ketika  Fransiskus dari Asisi mendengar sebuah kotbah yang didasarkan pada Matius  10:7-19, setelah mendengar khotbah tersebut ia mengambil suatu keputusan yang lebih radikal. Ia membuang tongkat dan sepatunya, memakai jubah hitam dan berikatpinggangkan tali dan hidup sebagai pengemis. Hal ini ia lakukan sebagai wujud ketaatannya kepada kristus. Sepanjang sisa hidupnya ia  mengajarkan tentang kemiskinan, pertobatan, kasih persatuan dan perdamaian.
                Pada usianya 45 tahun, sekitar tsahun 1209 yaitu pada tanggal 3 Oktober ia meniggal dunia.

No comments:

Post a Comment

Post a Comment