Tuesday, 5 February 2013

teori pendidikan



PENDAHULUAN

            Pendidikan Agama Kristen ( PAK ) yang pada hakekatnya secara sadar yang dilakukan dengan penuh terencana dan kontinu dalam rangka mengambangkan kemampuan para siswa, agar dengan pertolongan Roh Kudus dapat memahami dan menghayati kasih Allah dalam Yesus Kristus yang dinyatakan dalam kehidupan sehari-hari, baik terhadap sesama dan lingkungan hidupnya.
            Dengan demikian maka haruslah ada strategi yang dipakai dalam pembelajaran, khusunya bagi orang-orang yang terlibat dalam proses pembelajaran agama Kristen dan juga memiliki keterampilan untuk mewujudkan tanda-tanda kerajaan Allah dalam kehidupan pribadi maupun sebagian dari komunitas.
            Pada dasarnya pendidikan agama Kristen di sekolah formal bukanlah pekabaran injil semata-mata tetapi pendekatan agama Kristen di sekolah disajikan dalam sub aspek Allah Tri Tunggal (Allah Bapa, Putra dan Roh ) serta karya-Nya yang ada dalam nilai-nilai Kristiani. Secara Khalistik pengembangan kompetensi PAK pada pendidikan dasar dan menengah mengacu pada dokma Allah Tri Tunggal dan karya-Nya harus Nampak dalam nilai-nilai Kristiani yang dapat dilihat dalam kehidupan keseharian siswa. Berdasarkan pemahaman tersebut, maka rumusan kompetensi dalam pendidikan agama Kristen di sekolah dibatasi hanya pada aspek yang secara substansial maupun mendorong terjadinya transpormasi nillai-nilai kristiani dalam kehidupan siswa.




STRATEGI PEMBELAJARAN DAN KURIKULUM PAK
Ada 5 strategi pembelajaran dalam kurikulum PAK, antara lain :
1.      Hakekat dan kemampuan pembelajaran
2.      Beberapa pendekatan pembelajaran
3.      Pola pembelajaran PAK
4.      Dasar-dasar pembelajaran PAK
5.      Strategi pembelajaran PAK

Berikut ini akan diuraikan tentang strategi pembelajaran dan kurikulum PAK.
1.      Hakekat dan kemampuan pembelajaran
Hakekat pembelajaran adalah suatu system belajar yang terencana dan sistimatis dengan maksud agar proses belajar seseorang atau sekelompok orang dapat berlangsung, sehingga terjadi perubahan yakni meningkatnya kompetensi belajar tersebut. Untuk itu, maka seorang guru yang merupakan ujung tombak dalam pembelajaran sudah seharusnya menciptakan system lingkungan atau kondisi yang kondusif agar kegiatan belajar dapat mencapai tujuan secara efektif dan efisien ( Sunaryo dalam Hutabarat 2006 : 27). Hal ini sejalan dengan pendapat dari Ratumanan ( 2002 : 33) bahwa lingkungan fisik maupun social turut berpengaruh terhadap seseorang dalam proses belajar.
Dalam buku Model Pembelajaran terbitan Depdiknas 2004 (Hutabarat 2006 : 27 ), belajar adalah sebuah proses  perubahan tingkah laku seseorang atau subjek belajar. Pendapat yang sama disampaikan oleh Ratumanan ( 2002 : 1) bahwa belajar dapat memberi perubahan tingkah laku seseorang yang terjadi akibat hasil latihan atau pengalaman. Sehingga dapat dijellaskan bahwa belajar senantiasa merupakan perubahan tingkah laku melalui serangkaian aktifitas, misalnya membaca, mendengar, mengamati, meniru dan belajar itu akan lebih efektif dengan melakukan atau praktek ( Sardiman dalam Hutabarat 2006 : 28).
Atas dasar penegasan itu maka seseorang dikatakan belajar, apabila  menunjukan tingkah laku yang berbeda dari sebelumnya. Misalnya seseorang yang telah belajar dapat membuktikan pengetahuan tentang fakta-fakta baru atau dapat melakukan sesuatu yang sebelumnya tidak dapat dilakukkan. Perubahan tingkah laku itu tidak hanya berkaitan dengan penambahan ilmu pengetahuan tetapi juga mencakup kecakapan, keterampilan, sikap, pengertian, harga diri, minat, watak, penyesuaian diri, dan kemampuan-kemampuan lainnya. Menurut Bloom dalam Hutabarat (2006 : 28 ), mengelompokan kegiatan belajar kedalam 3 ranah yakni kognitiif, afektif dan psikomotorik. Terkait dengan itu maka tujuan belajar bagi subjek belajar adalah untuk :
-          Mendapatkan dan meningkatkan pemahamannya tentang pengetahuan
-          Menanamkan konsep dan peningkatan ketrampilan serta
-          Membentuk sikap.

UNESCO menegaskan bahwa ada 4 pilar dalam belajar, yang telah di sampaikan pulah oleh Suhaenah Suparno, dalam Hutabarat (2006 : 28) yakni learning to know, learnig to do, learning to live together dan learning to be.
Artinya bahwa perlu adanya proses belajar mangajar atau pembelajaran, Karen mengajar di dalam hal ini tidak  sekedar hanya menyampaikan pelajaran bagi siswa, tetapi suatu proses pengorganisasian atau menciptakan kondisi yang kondusif agar kegiatan belajar dari subyek belajar lebih efektif. Kondisi di ciptakan sedemikian rupa sehingga dapat membantu perkembangan obyek secara optimal, baik jasmani maupun rohani baik fisik maupun mental  yang lebih di kenal dengan proses pembelajaran.
Pembelajaran adalah sebuah sistem karena itu di dalam pembelajaran terdapat beberapa komponen yang saling terkait untuk mencapai hasil belajar yakni tercapainya kompetensi bagi siswa.

2.      Pendekatan pembelajaran
Pendekatan pembelajaran dapat digunakan untuk menetapkan strategi dan langkah-langkah pembelajaran demi tercapainya tujuan pembelajaran. Setiap pendekatan yang diterapkan akan melibatkan kemampuan subjek pelajar / siswa dan guru, dengan  kadarnya masing-masing. Terkait dengan hal tersebut, maka ada beberapa jenis pembelajaran menurut Anderson dalam Hutabarat (2006 : 31) yakni teacher centered ( berpusat pada guru ) dan student centered (berpusat pada siswa).
Pendekatan Ekspositiry adalah suatu model pembelajaran yang menekankan pada aktifitas guru dan subjek belajar bersifat pasif dan hanya menerima saja dari guru. Pendekatan ini umumnya didominasi dengan metode ceramah, sedangkan pendekatan inkuiri merupakan metode pembelajaran yang lebih menekankan pada aktifitas subjek belajar sementara guru lebih banyak berperan sebagai fasilitator dan pengelolah yang memberi pengantar dengan peragaan secara singkat dan selanjutnya subjek belajar secara aktif mencari dan menemukan sendiri apay yang sedang dipelajari (student oriented). Kedua pendekatan tersebut baik ekspository maupun inkuiri sama-sama mengandung keterlibatan subjek belajar hanya kadarnya yang berbeda seperti pendekatan ekspository keterlibatan siswa sangat rendah sedangkan pendekatan inkuiri aktifitas subjek belajar sangat tinggi artinya subjek belajar akan selalu menjadi titik perhatian dan focus dalam kegiatan pembelajaran dan sudah tentunya dalam menentukan pendekatan ini perlu disesuaikan dengan tuntutan kurikulum dan perkembangnan jaman.

3.      Pola pembelajaran PAK
Pola pembelajaran PAK SD, SMP dan SMA adalah contoh-contoh model yang dapat dipakai oleh guru agama Kristen di sekolah namun perlu diingat bahwa pendidikan di sekolah merupakan kesatuan yang utuh dengan pendidikan yang diterima oleh keluarga dirumah, gereja atau masyarakat. Pola pembelajaran nilai-nilai yang cocok adalah pembelajaran aktif yang mengacu pada strategi pembelajaran yang berfokus pada siswa (life center) sehingga seluruh pembelajaran berpusat pada siswa artinya bahwa perkembangan, keberadaan, pergumulan,, kebutuhan, kondisi kongkrit siswa yang sering kali berfariasi haruslah menjadi pertimbangan utama guru dalam merancang pembelajaran sehingga PAK benar-benar menyentuh eksistensi siswa dan siswa mengalami perubahan baik pengetahuan, sikap, keterampilan dan nilai-nilai dalam dirinya sesuai dengan nilai-nilai luhur yang diwujudkan dalam diri Yesus Kristus Tuhan yang mendasari pembelajaran PAK.
Dalam modul strategi pembelajaran PAK, pola pembelajaran aktif merupakan keterkaitan dari  komponen-komponen seperti pengalaman, komunikasi, interaksi dan  refleksi. Sehingga langkah-langkah secara bertahap dalam pembelajaran aktif yang dipilih tentunya mengacu pada keempat komponen tersebut.
Idelanya PAK yang sarat dengan nilai-nilai kristiani ini dilaksanakan secara berkesinambungan, tahap demi tahap, mulai dari TK, SD, SMP dan SMA baik di sekolah, gereja, Keluarga maupun di masyarakat. Bentuk atau system pendidikan adalah terbuka (open ended system ) artinya PAK tidak selesai hanya di sekolah tetapi merupakan pembelajarn yang utuh dan berkesinambungan dengan gereja, keluarga, mulai dari kandungan sampai liang lahat. Proses pembelajaran PAK tidak hanya berhenti di skolah saja tetapi belajar terus menerus disepanjang kehidupan manusia. Itu berarti nilai-nilai agama itu dipelajari kapan saja, dimana saja, sepanjang waktu siswa belajar tentang Allah dan karyanya secara nyata dalam kehidupannya.

4.      Dasar-dasar pembelajaran pendidikan agama Kristen
Beberapa kutipan ayat alkitab dibawah ini menolong guru untuk memahami intinya pembelajaran PAK adalah :
·         Ulangan, 6 : 4 – 9 ( haruslah engkau mengajarkannya berulang-ulang kepada anak-anak mu)
·         Efesus 6 : 4 (didiklah mereka dalam ajaran dan nasehat Tuhan)
·         Amsal 22 : 6 ( didklah orang muda menurut jalan yang patut baginya maka pada masa tuanyapun ia tidak akan menyimpang daripada jalan itu )
·         2 Timotius 3 : 16 ( segala tulisan yang diilhamkan Allah memang bermanfaat untuk mengajar, menyatakan kesalahan untuk memperbaiki kelakuan dan mendidik orang dalam kebenaran)

Implikasinya
·         Imperative mendidik / membesarkan ( bandingkan Amsal 13 : 13)
·         Mendasarkan pengajaran/asuhan pada kitab suci
·         Pendidikan Kristiani bersifat terus menerus (life long education)
·         Pendidik : orang tua, guru, fungsionaris pendidikan
·         Pendekatan multi metode
·         Isi nesehat atau ajaran Tuhan (bandingkan Amsal 2 : 6 ; 3 : 13 – 15)

5.       Strategi pembelajaran Pendidikan Agama Kristen
Strategi pembelajaran Pendidikan Agama Kristen adalah pola strategi yang berisi langkah-langkah prosedur dalam merancang program pembelajaran Pendidikan Agama Kristen sesuai tuntutan kurikulum untuk memperoleh hasil belajar siswa. Dengan demikian sebelum merancang strategi pembelajaran, guru perlu mempertimbangkan keberadaan siswa yang beranekaragam latar belakang kehidupannya. Siswa beraneka ragam dalam hal  perkembangan fisik, psikis, moral, kognitif dan kepribadiannya. Pertimbangan tersebut berdasarkan tujuan yang sama bagi semua siswa yaitu agar mereka mengalami pertumbuhan pengetahuan, siikap keterampilan, mental rohani dan mmoralitas.
Dalam kurikulum 2004, tujuan ini disebut kompetensi yang didasari oleh nilai-nilai kristiani melalui Pendidikan agama Kristen di sekolah. Perlu juga diipahami bahwa pendidikan agam Kristen adalah mata pelajaran yang bermuatan ranah afektif dan psikomotorik lebih besar daripada kognitif sehingga melalui pembelajaran pendidikan agama Kristen diharapkan siswa mengalami perjumpaan dengan Allah di dalam Tuhan Yesus, sang sumber nilai-nilai yang membawa perubahan pada diri siswa khususnya perkembangan iman serta mental moralnya disamping perkembangan pengetahuan dan psikomotoriknya.
Keutuhan perkembangan ranah afektif, kognitif dan psikomotorik yang didasarkan pada nilai-nilai kritiani menjadi hal yang sentral dalam kurikulum Pendidikan Agama Kristen. Keutuhan dari ketiga unsure pelaksana pendidikan yakni keluarga, gereja/ masyarakat dan sekolah juga menjadi pemikiran strategis yang dikoordinir dalam kurikulum Pendidikan Agama Krisen tahun 2004 dilakukan tiga pendekatan masing-masing :
1.      Pendekatan dialogis atau partisipatif
Bahwa pendekatan dalam kurikulum Pendidikan agama Kristen yang berbasis kompetensi adalah pendekatan dialogis pertisipatif dalam belajar aktif dengan focus pada kehidupan siswa (Life center ) artinya sebagaimana kurikulum dirancang dengan pendekatan tersebut maka strategi pembelajaran pendidikan agama Kristen pun mengacu pada kurikulum. Seupaya pembentukan iman, mental moral, pengetahuan yang didasarkan pada nilai-nilai kristiani siswa menjadi tujuan pembelajaran pendidikan agama Kristen.
Pendidikan Agama Kristen adalah salah satu dari sejumlakh mata pelajaran yang bertujuan mengimbangkan kepribadian siswa sehingga menunjang mata pelajaraa lainnya karena pendidikan agama Kristen di sekolah merupakan bagian yang utuh dari pendidikan di gereja, keluarga dan masyarakat sehingga melalui belajar aktif siswa dapat mengimplementasikan pengetahuan imannya dalam sikap, tindakan konkrit yang merupakan kesaksian imannya ditengah-tengah dunia dan kemuliaan bagi Tuhan.
2.      Strategi penyusunan program pembelajaran PAK
Dalam menyususn program pelajaran/disain pembelajaran Pendidikan Agama Kristen dengan pendekatan dialogis partisipatifyang berfokus pada kehidupan siswa dalam belajar aktif maka guru Pendidikan Agama Kristen perlu berkoordinasi dengan wali kelas, wakil Kepala sekolah bidang kurikulum untuk melakukan langkah-langkah persiapan sebagai beriku :
Ø  Program pembelajar disusun bersama guru-guru agama Kristen di wilayahnya atau dalam kelompok MGMP atau musyawarah guru mata pelajaran agama Kristen atau kelompok PERGAKRI (persekutuan guru agama kristen) untuk mengimplementasikan kompetensi dan materi pokok dalam kurikulum sesuai kebutuhan siswa disekolanya atau dilingkungannya atau di daerahnya
Ø  Metode yang dipilih dapat disepakati agar masing-masing guru  memilih sesuai dengan kompetensi yang akan dicapai dengan mempertimbangkan situasi kondisi sekolah dan siswanya demmikian pula efalusainya.
Ø  Pembelajaran dirancang agar terjadi komuniakasi refleksi, shering pengalaman iman antara siswa dengan siswa, siswa dengan guru dan juga siswa dengan lingkungan.
Ø  PAK dapat mencapai sasarannya jika terjalin komunikasi dari pelaku-pelaku PAK dengan, keluarga, sekolah, gereja sehingga saling melangkapi sesuai dengan fungsinya.
3.      Penyajian program pembelajaran Pendidikan Agama Kristen
Pada pembelajaran pendidikan agama Kristen dengan pendekatan dialogis partisipatoris yang berpusat pada kehidupan siswa (life center) proses pelaksanaannya dilakukan melalui tiga paket kegiatan yaitu :
a.       Kegiatan belajar mengajar dikelas
b.      Kegiatan belajar mandiri siswa
c.       Kegiatan keagamaan di rumah/keluarga.

a.       Kegiatan belajar mengajar di kelas
Strategi kegiatan belajar mengajar dikelas dilakukan oleh guru agam Kristen ditempuh dengan cara menjabarkan kompetensi melalui langkah-langkah pembelajaran aktif dengan mendasarinya pada kesaksian alkitab. Lanngkah-langkkahnya sebagai berikut :
·         Pembukaan pembelajaran dengan doa, nyanyian dan pembacaan alkitab (10 – 20 Menit)
·         Pembahasan materi pokok sesuai dengan modul bingkai materi pendidikan agama Kristen untuk SD, SMP dan SMA (30 – 40 Menit)
·         Srategi pembelajaran ini dilaksanakan secara luwes dan tidak mengikat, tergantung pada kompetensi, materi pokok, suasana siswa, perkembangan lingkungan di kelas.
b.      Kegiatan mandiri siswa
Kegiatan mandiri adalah tugas kegiatan pengalaman dan pengalaman keagamaan yang diberi oleh guru PAK kepada setiap siswa pada setiap pembelajaran satu semester.  Program kegiatan keagamaan di sekolah yang harus dilakukan oleh setiap siswa meliputi :
-          Penguasaan tata cara beribadah / liturgy
-          Penguasaan tata cara penelaah alkitab
-          Ibadah pada hari minggu dan hari raya gerejawai
-          Bedah buku Kristen
-          Studi intensif tentang agama Kristen
-          Program aksi pelayanan bersama
-          Kunjungan antar gereja
-          Kegiatan lain yang disesuaikan dengan kondisi sekolah seperti aksi social antar agama
c.       Kegiatan Keagamaan di rumah / keluarga
Program kegiatan keagamaan dirumah sebenarnya merupakan hakk asasi yang dimiliki oleh keluarga namun agar terjadi pembelajaran PAK yang berkesinambungan maka guru juga perlu mengusulkan beberapa kegiatan yang sebaiknya diadakan oleh keluarga sehingga dapat mendukung kegiatan keagamaan di sekolah  seperti
-           ibadah bersama dalam keluarga,
-          penelaah alkitab bersama dalam keluarga
-          menjalin persaudaraan dalam kasih kristus
-          menggali kegiatan keagamaan lain melalui media masa dan mendiskusikannya dalam keluarga
-          melakukan pelayanan bersama oleh keluarga pada gereja yang lain
d.      kegiatan di gereja
keaktifan siswa di dalam kegiatan gerejawi merupakan factor penting yang mendukung program keagamaan siswa seperti yang telah dilakukan oleh sekolah antara lain:
-          mengikuti ibadah bersama
-          mengikuti program gereja
-          reatreat
-          kemah kerja


e.       kegiatan di masyarakat
Kegiatan social siswa di masyarakat merupakan kegiatan implementasi siswa atas pembelajaran PAK yang diterimanya dari keluarga, gereja dan sekolah. Masyarakat adalah tempat siswa mempraktekan iman dan ilmunya sehingga siswa menjadi garam dan terang Kristus bagi dunia sekitarnya.

KESIMPULAN
Berdasarkan hasil bahasan yang telah duiraikan di atas maka dapat disimpulkan bahwa strategi pembelajaran dan kurikulum Pendidikan agama Kristen adalah salah satu dari sejumlah mata pelajaran yang bertujuan untuk mengambangkan kepribadian siswa sehingga menunjang mata pelajaran lainnya karena pendidikan agama Kristen di sekolah merupakan bagian yang utuh dari pendidikan di gereja, keluarga, masyarakat sehingga melalui belajar aktif siswa dapat mengimplementasikan pengetahuan imannya dalam sikap, tindakan konkrit yang merupakan kesaksian imannya di tengah-tengah dunia demi hormat dan kemuliaan nama Tuhan. 









Daftar Pustaka

Hutabarat O. R. 2006. Model-model Pembelajaran Aktif Pendidikan Agama Kristen SD, SMP, SMA berbasis Kompetensi. Bina media informasi
Ratumanan T. G, 2002.  Belajar dan pembelajaran. Surabaya; Unessa University PRESS



No comments:

Post a Comment

Post a Comment